Hello my honest blog. Still loving me? Not, still remember me?Yeah its too long visit you. Perpanjangan sajadahku sejak dahulu :')
Ini sudah di 2020. Angka genap yang menggenapkan kisah satu menjadi dua menjadi tiga dan selanjutnya. Dramatis, perih, sulit dan begitu berbeda dari tahun yg lalu-lalu. 2020, hampir semua insan risau, resah, merintih bahkan mati secara perlahan-lahan. Life is changing. Tuhan pasti merubahnya, mengirimkan mahluk terkecilNya untuk membuat manusia elling pada hakikat penciptanya.
Untukku...untuk Aku yang ada dimasa ini. Rasa takutku, cemasku kugenggamkan pada kedua telapak tanganku. Kusapuhkan pada kedua bahuku. Berusahaku menenangkan jiwa ini. Berusahaku untuk memberi perasaan aman pada diri sendiri.
Sulit berkali kali, situasi ini begitu menghujam untuk aku yang sejak dahulu tak pernah berubah status "siperantau". Begitu dalam makna rantau itu saat ini untuk aku dan bahkan lainnya yang sama sepertiku. Disituasi ini mengajarkan untuk lebih banyak mengadu membangun keintiman dengan sang pencipta, mengadukan nasib, rindu yang menahan ingin pulang kerumah, sakit karena imun yang terus tergerus dikarenakan pikiran dan juga jiwa yang tersakiti oleh jalinan kisah pilu. Benar adanya, ini waktu dan batasan-batasan yang dibuat oleh Tuhan agar kita lebih intim kepadaNya, menjadikan Dia priotitas utama dalam pengaduan. Ramadhan yang mmg selalu mahal kudapatkan bersama keluarga sejak dulu, kini hari raya pun akan menjadi hal yang sangat mahal untuk dapat kurasakan saat ini.
Untukku... untuk Aku yang saat ini sedang "keterlelahan" dengan kisahku sendiri. Kisahku pun kini begitu berbeda situasinya, lembar barunya mengisahkan kisah pilu yang berbeda, tangisan lirih yang berbeda bahkan. Dalam. Sedalam itu. TuhanKu pun mendengar jeritan berbeda saat ini. Aku meminta Nya untuk menitipkan sabdah ikhlas didadaku. Berulang-ulang kuminta. Bukankah mmg malaikat selalu kesulitan menuliskan amalan ikhlas manusia. Yah Aku sangat membutuhkannya. Tak ada yang kupanjatkan selain keajaiban atas keikhlasan. Dan lagi, ku usapkan air mata pada genggamanku, kusapuhkan pada kedua bahuku menganggap itu kekuatan dari Tuhan. Dan juga, ku peluk dada yang perih agar segukanku tak menyakiti kerongkonganku. YaAllah ya Tuhan yang selalu kupercaya, peluklah hambaMu ini, genggam hatinya dan bisikkan keikhlasan dihati itu.
Lailahaillallah.
Komentar
Posting Komentar