Masih adakah tempat lain untukku mengadu saat ini. Selain Tuhan, selain sujudku, doaku dan tasbihku. Kurasa semua itu tak cukup. Kafirlah Aku yang meragukan Tuhan. Semua yg ku lantunkan seperti kosong dan hampa.
Bagaikan hanya mengoceh kosong tanpa balasan.
Apa mungkin aku harus menuliskannya seperti ini? Tidak juga. Ini tidak akan membantu.
Titik terendahku ialah ketika aku harus ditimpa di situasi dan kondisi, bahwa aku harus melepaskan apa yang paling berharga dalam hidupku. Melepasmu itu adalah logika berfikir untuk aku yang sedang waras dan orang-orang mengaku peduli kepadaku. Sedangkan hatiku bukan seperti itu. Sangat jauh dari kata logika berpikirku. Bahkan hatiku merontah untuk hal ini.
Aku bahkan tak peduli seperti apa kau saat ini, seperti apa rasamu saat ini untukku.
Aku telah lupa petuah-petuah hidup. Aku lupa bijaknya aku disaat sebelum ada kamu. Saya benci sabdah Tuhan " jikalau dia memang takdirmu maka dia akan bersamamu, tetapi jika Ia tak berkehendak, seperti apapun tidak akan bisa", apa iya akan seperti itu? Logika warasku pun saat ini tak mampu berpikir bahwa akan ada orang lain diluar sana yang lebih baik. Banyak! Tp lagi-lagi hatiku merontah.
Beberapa bulan saya melewatinya bersamamu. Terlalu banyak waktu yg berlalu kita lalui. Kehidupan gila yang kita syukuri bersama. Kehidupan konyol yang begitu berharga untuk kita. Saya takpernah berpikir akan hidup tanpamu. Melakukan rutinitas sendiri. Saya merindukan semuanya, bermimpi bersama-sama, mengatur rencana hidup bersama-sama.
Dulu, selalu aku bermunajat untuk kita, agar kiranya Tuhan mau sedikit menoleh untuk kedua hambahNya untuk diberikan jalan menuju rahmatNya(halal).
Tapi saat ini aku meratap dan berpura-pura tangguh.
Diminggu pertama, kudengar telah kau temui jalanmu, bahkan mungkin benar2 yang kau cari dalam hidupmu. Artinya, selama ini dan bahkan sampai saat ini hanya saya dan hatiku saja yang terlalu serius denganmu. It doesnt matter. My feeling is my own business. May Allah bless 😇
Komentar
Posting Komentar