Langsung ke konten utama

Postingan

Eid

Le baran yang kali ini sungguh berbeda. Tak ada mudik, tak ada salam-salaman, tak ada sungkem, tak ada sholat id, tak ada makanan, tak ada keluarga, dan sendiri saja dikosan. Cuman air mata :'( Makassar, 24 Mei 2020.  Kasian sama diri sendiri. Kenapa harus hidup seperti ini. Hari-hari ada saja nafas tarikan karena sedih. Harus berusaha tegar sendirian. Harus selalu terlihat baik-baik saja depan orang lain. Hidup sendirian, hidup kesepian. Hidup dikota orang sendirian. Selalu disakiti sama orang lain. Disiksa sama orang lain. Tidak punya tempat mengadu selain Tuhan. Keluarga jauh. Teman tidak ada. Merasa rugi menjalani hidup. Merasa selalu menipu diri sendiri. Menyakiti diri sendiri. Membuat pilihan2 bodoh dalam hidup. Menjalani hidup sekedarnya saja. Ikut alur. Senang melamun karena bisa sedikit melupakan waktu. Tidak tau hidup utk apa. Tiap malam tidur berharap esok sudah berubah tp sama saja. Selalu iri liat hidup orang lain tp takut dosa krn tidak bersyukur. 
Postingan terbaru

Hello

Hello my honest blog. Still loving me? Not, still remember me?Yeah its too long visit you. Perpanjangan sajadahku sejak dahulu :') Ini sudah di 2020. Angka genap yang menggenapkan kisah satu menjadi dua menjadi tiga dan selanjutnya. Dramatis, perih, sulit dan begitu berbeda dari tahun yg lalu-lalu. 2020, hampir semua insan risau, resah, merintih bahkan mati secara perlahan-lahan. Life is changing. Tuhan pasti merubahnya, mengirimkan mahluk terkecilNya untuk membuat manusia elling pada hakikat penciptanya.  Untukku...untuk Aku yang ada dimasa ini. Rasa takutku, cemasku kugenggamkan pada kedua telapak tanganku. Kusapuhkan pada kedua bahuku. Berusahaku menenangkan jiwa ini. Berusahaku untuk memberi perasaan aman pada diri sendiri.  Sulit berkali kali, situasi ini begitu menghujam untuk aku yang sejak dahulu tak pernah berubah status "siperantau". Begitu dalam makna rantau itu saat ini untuk aku dan bahkan lainnya yang sama sepertiku. Disituasi ini mengajarkan untuk lebih ban...

Pulang !

Jejak-jejak nafas, denting menit, suara hening, aroma udara. Masih sama, belum berubah sama sekali. Aku harus pulang, pulang... Aku memiliki harapan-harapan disini. Ku tinggal untuk beberapa waktu, tak lama. Aku pasti kembali disini. Meskipun hanya mengenang ...

On January

Masih adakah tempat lain untukku mengadu saat ini. Selain Tuhan, selain sujudku, doaku dan tasbihku. Kurasa semua itu tak cukup. Kafirlah Aku yang meragukan Tuhan. Semua yg ku lantunkan seperti kosong dan hampa. Bagaikan hanya mengoceh kosong tanpa balasan. Apa mungkin aku harus menuliskannya seperti ini? Tidak juga. Ini tidak akan membantu. Titik terendahku ialah ketika aku harus ditimpa di situasi dan kondisi, bahwa aku harus melepaskan apa yang paling berharga dalam hidupku. Melepasmu itu adalah logika berfikir untuk aku yang sedang waras dan orang-orang mengaku peduli kepadaku. Sedangkan hatiku bukan seperti itu. Sangat jauh dari kata logika berpikirku. Bahkan hatiku merontah untuk hal ini. Aku bahkan tak peduli seperti apa kau saat ini, seperti apa rasamu saat ini untukku. Aku telah lupa petuah-petuah hidup. Aku lupa bijaknya aku disaat sebelum ada kamu. Saya benci sabdah Tuhan " jikalau dia memang takdirmu maka dia akan bersamamu,  tetapi jika Ia tak berkehendak, sepert...